Filsafat Apakah Itu...?
Pertemuan kuliah Filsafat Ilmu yang
dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2015, pada pukul 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A
gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit.
Filsafat Seni :
Estetika
Filsafat Fisika : Filsafat Alam
Matematika :
Koherentisme
Agama :
Spiritualisme
Baru :
Sintesis
Lama :
Tesis
Proses :
Sintesis
Tujuan :
Idealisme
Alat :
Epistemologi
Tulisan :
Dialektisme
Bahasa :
Analitik
Bertanya :
Dialektis
Menjawab :
dialektisme
Menyanyi :
Estetika
Ada :
Ontologi/Eksistensialisme
Mungkin ada :
Ontologi/ Noumena
Perintah :
Ditabilisme
Memiliki :
Determinisme
Melihat :
Realisme
Mendengar :
Realisme
Berpikir :
Kohorensisma/sintesis
Mencoba :
saintisisme
Pengalaman
: Empirisme
Bersembunyi :
Metafisika
Khayalan :
Fiksiolisme
Bercinta :
Romantisme
Memilih :
Reduksionisme
Tetap :
Permenides
Berubah :
Heraklitosianisme
Pasti :
Absolutisme
Tak pasti :
Relativisme
Jauh :
Teleologi, kalau dalam filsafat disebut Predestinasi, semacam ramalan. Apabila
manusia setiap hari dibiasakan terbang, mungkin suatu hari manusia akan bisa
terbang.
Besar :
Makrokosmis
Kecil :
Mikrokosmis
Pasrah :
Fatalisme
Berusaha :
Fitalisme
Kembar :
Identitas
Beda : Kontradiksi
Salah :
Fallibisme, melindungi kesemenamenaan orang tua yang selalu ingin anaknya serba
bisa dan serba benar.
Benar :
Epistemologi adalah isi, wadahnya ontologi.
Ragu-ragu : Skeptisisme,
tokohnyaRene Descartes
Hubungan : Konektivisme
Bentuk : Formal
Mengabaikan :
Reduksi/Abstraksi. Apabila aku melihat dirimu, aku mengabaikan yang sana.
Kemampuan hidupku adalah reduksi. Hanya bermakna bagi diriku kalau aku mampu
mimilih. Ketika engkau bisa memikirkan, melihat, berkata semua dalam satu waktu,
maka hidupmu tidak akan bermakna. Seperti pisau tajam yang sangat ampuh tapi berbahaya.
Sebenar-benar hidup adalah reduksi. Maka manusia selalu tidak adil karena tidak
bisa melihat belakang tengkuknya. Sebenar-benar hidup itu tidak adil. Kalau
bisa bersikap adil, aku tidak akan bisa hidup. Sebenar-benar adil adalah
milik-Nya, manusia hanya berusaha, usaha tersebutlah maknanya. Yang adil adalah
maknanya. Musuh besar filsafat dan spiritualisme orang-orang yang mendahului
kehendak Tuhan. Itulah filsafat yaitu pola pikir
Bertengkar : Sintesis.
Kamu mengajukan tesis, aku antitesis. Sebenar-benar ilmu adalah pertengkaran
itu sendiri, karena proses mencari ilmu (Pertengkaran Orang Tuan berambut
putih). Sesuatu yang baru selalu dipertengkarkan dalam pikiran, merupakan manfaat
dan barokah. Namun jangan sampai turun ke hati, karena apabila sudah turun ke
hati, tempatnya setan bersemayam.
Jelas : Mitos/ Mitologi.
Musuh berfilsafat itu adalah kejelasan itu sendiri. Ketika sudah merasa jelas,
maka kamu akan berhenti. Mandeg/stagnan itu menyalahi kodrat. Tetap dan
bergerak itu berinteraksi. Kodratmu sebagai manusia itu tetap. Tetapi taraf
kelembutan kulit itu berubah. Apabila dalam matematika murni menjcari kejelasan
jelas, maka dalam filsafat, semua yang jelas dibuat tidak jelas.
Damai : Mitos/Mitologi. Indonesia damai itu hanyalah mitos.
Manfaat :
Utilitarian. Contohnya Amerika. Menyerang irak karena bermanfaat bagi Amerika.
Yang benar itu yang bermanfaat bagi dirinya. Manusia tidak bisa parsial,kemarin
utilitarian, sekarang demokratis.
Jalan Pintas :
Pragmatisme. Menghasilkan budaya instan.
Terlambat : Menembus
ruang dan waktu.
Pertemuan ini dimulai dengan sebuah kuis tentang Istilah Filsafat yang
terdiri dari 50 soal. Namun banyak sekali nilai yang bertelur yang mencerminkan
jarak Bapak terhadap kami. Itulas sebabnya Bapak berpacu dengan kami. Oleh
sebab itu, Bapak menyarankan untuk membaca elegi-elegi. Apabila Bapak sudah
sampai kepada pokok permasalahan yang diposting, tetapi mahasiswa belum
membaca, maka Bapak akan menjadi dilematis. Apabila Bapak terangkan, maka makna
postingnya akan berkurang. Maknanya adalah usaha kami ketika berusaha memahami.
Apapun yang sudah Bapak tulis itu formal. Isinya terserah interpretasi kami masing-masing.
Bapak tidak memberi atau menginfus ilmu filsafat kepada kami. Filsafat itu
dirimu sendiri sehingga hasil dan persepsi masing-masing orang akan berbeda.
Bapak hanya menuruti sunattuloh, mencoba membangun jati diri, dirimu sendiri,
isi tidak harus sama dengan diriku.
Kemudian Bapak menyuruh kami untuk membuat pertanyaan minimal seorang
satu, tentang persoalan apapun.
Yolandaru Septiana: “Filsafat dari sebuah pengalaman bagaimana cara
menemukan hakekatnya.”
Bapak Marsigit: “Begini, hakekat ilmu dalam perjalanan para filsuf pada
akhirnya disempurnakan oleh Imanuel Kant, sang pendamai. Hakikat ilmu pada
akhirnya adalah sintetik apriori. Sintetik itu bawah, apriori itu atas.
Sintetik itu dunia, apriori pikiran, khayalan sampai akhirat. Sintetik itu
paham setelah melihat, mendengar, dipegang, diminum dan berlaku hukum sebab
akibat. Apabila diekstensikan, sintetik itu: dunia, pengalaman, benda, tumbuhan,
binatang, semua isi dunia. Satu makna disitu berlaku hukum “ tiadalah segala
sesuatu itu berdiri sendiri”. Artinya bahwa ketika aku minum air terasa manis,
manisnya gula dikarenakan air. Aku bisa minum air karena gelas. Gelas ini
karena kaca dst. Jadi setiap yang ada dan yang mungkin ada, yang bisa
dikatakan/ditunjuk adalah wakil daripada dunianya. Maka bisa aku tambahkan kata
dunia di setiap apa yang ada dan yang mungkin ada. Dunia seni, dunia jilbab,
dunia cantik, dll. Karena yang ada dan yang mungkin ada mewakili dunianya.
Apabila ditarik ke depan, maka dapat ditambahkan filsafat. Filsafat udara apa,
filsafat pengalaman itu apa, dll. Semua hal tersebut harus dicari. Anda punya
makna karena anda masuk di kuliah ini. Pak Marsigit bermakna karena berdiri di
depan anda. Tidak ada yang berdiri sendiri, isolated.
Semua bermakna karena ada makna yang lain. Aku punya rasa gembira karena
mengenal kesedihan. Maka berilah siswa pengalaman yang lengkap sesuai ruang dan
waktunya.
Segala hal yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dua sifat. Selalu bersifat
wadah dan isi sekaligus. Apa yang kamu tunjuk adalah isi sekaligus wadah. Apa
yang kamu tunjuk mempunyai sifat yang tetap dan berubah sekaligus, bersifat
koeksisten. Salah satu sifat secara psikologi, yang merupakan persepsi. Maka
yang ada di bawah, di bumi itu dunia persepsi, karena bisa dipahami setelah
dipersepsi.
Dunia yang di bawah, sintetik tadi dapat menjadi aposteriori. Yang di
atas analitik apriori.
Aposteriori itu, apa yang
diminum baru bisa terasa manis. Apriori, belum diminum pun sudah bisa menentukan
kalau itu manis, memakai logika. Apriori bisa menjadi bahaya bila tidak digunakan
secara sesuai, contohnya cari jodoh di media sosial. Analitik yang dipikirkan
itu dasarnya konsistensi. Konsistensi, matematika, logika semuanya koheren,
tidak terjadi kontradksi. Kalau orang memasukkan gula ke dalam iair, logikanya
maka akan manis. Itu konsisten, kebenaran. Orang yang mencari kebenaran kalau hanya
memakai pikiran saja tidak cukup. Bahkan kebenaran saja tidak ancukup. Maka dari
itu filsafat memberikn kesempatan untuk bereksperimen. Hidup ini kalau hanya
pikiran saja: apa yang terjadi, kalau hanya pengalaman saja: apa yang terjadi?
Pengetahuan akan lebih kokoh, karena dilogikakan dan disertai pengalaman.
Kalau ada yang cacat mental itu seperti apa? Berati terbatas
berselancar di dalam dunia pikir; logika terbatas. Logika kan pakai hukum sebab
akibat, identitas satu dst. Sebenar-
benar ilmu adalah apriori sekaligus sintetik. Naik pikiran manusia memikirkan
Tuhan, maka sehebat-hebatnya isi tidak mungkin bisa menjelaskan semua aspek
dari pada wadahnya. Sehebat-hebatnya dewa, tidak akan mampu mendefinisikan
Tuhan.”
Maka karena keterbatasan waktu, Pak Marsigit menggunakan prinsip
reduksi. Memilih yang satu, mengabaikan yang lain. Pertanyaan kedua sekaligus
terakhir.
Suhariyono: “Bagaimana cara berfilsafat yang benar menurut para filsuf?”
Bapak Marsigit: “Setiap yang ada dan mungkin ada adalah wakil dari
dunianya, maka filsuf adalah wakil dari dunianya. Maka dari itu, filsafat tidak
boleh pilih-pilih. Kalau mau belajar kontempoterer pasti kena yang klasik. Mau
belajar Aristoteles pasti kena Descartes. Jadi para filsuf mempunyai
kebenarannya masing-masing. Jangankan para filsuf atau Pak Marsigit, bahkan
kamu pun punya kebenaran masing-masing. Hanya masalah taraf bacaan, pikiran, ruang dan dimensi saja
yang membedakan. Orang yang tradisional dan primitif juga punya kebenaran
masing-masing. Maka berfilsafat kalau sudah sampai kepada mau mengintensifkan
dan mengefektifkan filsafat itu memang ada 4 godaan, yaitu: latar belakang dirimu
(menganggap dirimu benar), godaan panggung (apa yang orang katakan pada
khalayak kemudian berlaku), godaan pasar (apa yang dipikirkan hirukpikuk
masyarakat), godaan otoritas (selalu ikut atasan). Itulah godaan orang mencari
kebenaran. Setiap orang dapat menjadi otoritas, termasuk dosen, sehingga saya
mengimbanginya dengan menyediakan bacaan supaya tidak terjadi mitos.
Jadi semua jawaban singkat ini sangat berbahaya, karena merupakan
reduksi yang sangat hebat. Maka jawaban itu bertingkat-tingkat sesuai
kebutuhannya. Supaya kesombongannya luruh, egonya runtuh. Apabila dalam
filsafat sombong, tidak akan dapat apa-apa.”
Lagi Bapak menambahkan: “Jadi filsafat itu lebih dari sekadar prosa dan
puisi, kata-kata mutiara. Estetika itu tidak semata-mata benar dan salah. Sama
seperti matematika kalau hanya benar salah dan tidak mempedulikan. Itulah
pentingnya kompromi. Perlu matematikawan yang mengerti seni, dan seniman yang
mengerti matemtatika, tapi sulit karena manusia itu terbatas.”
Akhirnya Bapak mengakhiri dengan wejangan supaya banyak membaca elegi karena
sebetulnya semua pertanyaan kami sudah terangkum dan terjawab dalam postingan
bapak. Pak Marsigit juga meminta maaf karena membuat hati tidak nyaman,
kemudian kami berdoa tutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar