Episode Lanjutan Menembus Ruang dan Waktu
Arjuna
Mencari Wahyu, Aku Mencari Filsafatku
Pertemuan kuliah Filsafat
Ilmu ini dilaksanakan
pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung
lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini
diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan
mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh Pak Marsigit.
Pertanyaan pertama
dari Rizqy Umami “Bagaimana cara kita untuk benar-benar
bisa memahami kajian filsafat?”
Seorang filsuf ternama pun ketika menjawab
pertanyaan saya dimungkinkan nilainya nol. Karena filsafat itu adalah dirimu
sendiri. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup terjemah dan
menterjemahkan. Terjemahkanlah diriku bukan asesorisnya, tapi pikirannya,
dengan cara baca baca dan baca. Kemudian aku menterjemahkan dirimu melalui
pertanyaan. Tetapi jadi orang itu jangan pernah berhenti berikhtiar, jangan
patah semangat, diteruskan saja. Nah pertanyaan ini fungsinya tidak semata-mata
untuk mengetahui pikiran anda, tapi juga sebagai sarana untuk mengadakan dari
yang mungkin ada menjadi ada dari dirimu masing-masing. Setidaknya sudah ada
kesadaran menembus ruang dan waktu. Jangankan manusia, hewan dan batu pun
menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalaupun
protes, dia menembus ruang dan waktu dengan ilmu dan metodologi tertentu. Tapi
dengan berdiam pun, dari kehujanan menjadi tidak kehujanan, dia sudah menembus
ruang. Semua benda bisa aku sebut di depannya adalah waktu. Apa ada silahkan
sebut sifat satu saja dari bermilyar pangkat sifat yang tidak dikaitkan dengan
waktu. Bahkan yang notabene terbebas dari ruang dan waktu yang ada dalam
pikiran anda. Contoh saja 2+2 = 4. Karena itu terbebas oleh ruang dan waktu.
Tapi aku masih bisa mengatakan bawa hari ini 2+2=4, atau besok, 2+2=4. Itu
identitas. Karena terbebas oleh ruang dan waktu. Tetapi apabila sudah terikat
oleh ruang dan waktu, serta merta kontradiktif. Ada sifat-sifatnya, dan sifat
itu bersifat subordinat, menjadi predikat daripada obyeknya.
Fajar Nur Cahyani “Bagaimana filsafat
memandang pendidikan di Indonesia dan bagaimana peran filsafat bagi
meningkatkan mutu pendidik di Indonesia?”
Itu tema besar, dan bisa dibaca di blog saya.
Tapi esensinya, ketika mengetahui praksis pendidikan, ada baiknya juga
mengetahui latr belakang pendidikan dan landasan pendidikan. Landasan, latar
belakang dan masa depan pendidikan, itu wadahnya tidak lain tidak bukan adalah
filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan, belajarlah filsafat.
Semuanya terangkum di situ, termasuk di dalamnya unsur-unsurnya,
pilar-pilarnya. Politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan
kontekstual. Ga usah jauh-jauh ke Amerika, di Indonesia pun ada politik
pendidikan, politik pemerintah dan sebagainya.
Ndaru Asmara “Apakah dengan berfilsafat kita bisa berkomunikasi dengan makhluk lain,
seperti hewan dan tumbuhan?”
Filsafat itu wacana, bahasa, penjelasan, maka
ada jarak antara penjelasan dengan praksisnya. Bagi seorang filsuf, ia ingin
menjelaskan bagaimana orang itu kesurupan. Tapi filsuf sendiri tidak bisa
kesurupan. Sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya. Jangan kemudian
filsufnya ikut-ikut kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan. Karena
filsafat itu olah pikir. Nah dari semua pikiran yang ada itu dipakai untuk
menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib. Secara filsafat, naik spiritual
turun psikologi. Filsafat itu lengkap. Jangan dikira, ada psikologinya. Ilham
spiritual itu petunjuk dari Tuhan. Apabila orang dapat pencerahan, ga ngerti
sebabnya. Secara filsafat itu gitu aja. Itu namanya ilham. Dan ternyata apabila
diteliti, setiap yang ada dan yang mungkin ada setiap waktu, aku selalu
mendapatkan ilham. Aku bisa menjawab pertanyaanmu karena aku mendapatkan ilham.
Jangan kemudian memitoskan ilham. Kamu bisa menjelaskan tidak, bagaimana proses
kamu bisa menjelaskan tadi di dalam pikiranmu. Seberapa jauh kamu bisa, dan
tidak akan bisa sempurna, ya pada akhirnya ilham juga. Wahyu juga ilmu, hanya
orang dulu, dipersonifikasikan wayu itu sebagai benda hidup. Karena apa? Karena
audiensnya tradisional. Maka ketika sang Arjuna mencari wahyu, pergi ke hutan,
cari yang sepi. Kalau jaman sekarang itu, sama seperti kamu masuk ke kamar baca
eleginya Pak Marsigit. Itu sama seperti Arjuna masuk ke dalam hutan. Menyepi,
merenung, memahami, disitulah aku dapat wahyu dan pengetahuan, dari yang ada menjadi
ada. Persis sama dengan Arjuna itu.” Kemudian Pak Marsigit memberi contoh
melalui sebuah cerita tentang Arjuna dan wahyunya.
“Wahai
Arjuna.”
“Ada
apa wahyu..?”
“Aku
melihat situasi dan kondisinya, engkau itu berchemistry dengan saya.”
“Alhamdulillah,
Amin.”
“Kalau
begitu bolehlah aku menyatu dengan dirimu”
“Jikalau
engkau berkehendak begitu, silakan.”
“Oleh
karena itu, supaya aku selamanya bisa menjadi satu dengan dirimu, ikutilah
perintahku.”
“Boleh.”
“Bukalah
mulutmu, pejamkan mata. Setelah itu kembali normal. Maka sekejap itu juga, aku
akan jadi satu dengan dirimu.”
Apa yang akan menjadi satu dengan dirimu?
Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual.
Itu sudah menjadi satu dengan dirimu. Jadi ada banyak sekali wahyu yang tidak
engkau sadari. Berfilsafat itu adalah menyadari, bahwa aku belum tahu,
menyadari, mengetahui ketidaktahuanku. Menyadari kapan aku mulai mengetahui,
menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib itu jika
diterangkan secara filsafat, naik spiritual, filsafat transenden, turun menjadi
psikologi. Transendennya filsafat itu noumena. Noumena itu diluar fenomena.
Semua yang diraba, semua yang dipikir, semua yang dilihat itu fenomena. Maka
roh dan arwah dianggap noumena. Seberapakah orang itu tahu, bisa memakai segala
macam metode. Bisa pakai logika, pengalaman, teori, ke spiritual. Berbagai
macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada
batasannya, batas-batas tertentu. Maka bagi pikiran saya, yang namanya setan
itu potensi negatif. Malaikat potensi positif. Di dalam dirimu ada potensi
negatif, ada potensi positif. Neraka itu potensi negatif. Surga potensi
positif. Oleh karena itu raihlah surga ketika engkau ada di dunia, tapi bukan
surga dunia. Maka orang yang masuk surga secara psikologi, secara hukum itu
kelihatan. Para koruptor jelas akan masuk neraka secara hukum, secara spiritual
lain lagi. Itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihatpun berdimensi. Itulah
mengapa bagi anak kecil, pohon itu ada hantunya. Padahal kata kakak saya, “Itu
mah supaya anak kecil takut, jangan merusak tanaman”. Itulah bedanya. Oleh
karena itu, apabila ada yang bisa berbicara dengan kucing: “Meong...meong...”
atau dengan burung: “hey..hey... krrrr...”. Apa definisi bicara? Dengan burung
memakan padi, aku sudah mengerti bahasanya. Komunikasi dengan tumbuhan? “Kamu
sudah mulai layu.. aku siram..”. Daun yang kuning itu, apabila oleh tumbuhan
diwacanakan: ”Wahai tuanku yang berbaik hati dan berniat baik pada awalnya,
engkau telah menanam diriku dengan tujuan yang mulia. Wahai tuanku, inilah
kuberikan tanda-tanda kepada tuanku bahwa daunku mulai menguning. Ketahuilah
wahai tuanku, sebenar-benar yang terjadi pada diriku adalah aku sedang
membutuhkan air”. Jadi elegi, apabila diteruskan menjadi elegi tumbuhan
membutuhkan air. Dialog antara tumbuhan yang membutuhkan air. Awalnya elegi itu
seperti itu. Soal spiritual, saya pernah tinggal di masjid selama 10 hari
belajar ke sufi, menertibkan tata cara berdoa, ibadah dan sebagainya. Ketika
intensif berdoa di situ, alamnya seperti itu, aku pun rasa-rasanya enggan
pulang. Ingin saja tinggal di situ. Dan ketika itu, sensitivitas rohani atau
hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan metafisika itu muncul. Jangankan
berdialog seperti tadi. Seseorang yang makan bakmi tidak berdoa dulu, terlihat
seperti memakan cacing. Itu ketika spiritualku sangat tinggi. Tapi kalau sedang
sibuk mengajar seperti sekarang ini, ingat berdoa setelah bakminya habis.
Suhariyono “Bagaimana beragama dalam filsafat,
sedangkan para filsuf sendiri mungkin belum beragama?”
Beragama dalam sisi filsafat, ialah
tetapkanlah dulu agama, keyaninan, hatimu, baru mulai menerbangkan
layang-layang pikiran. Sebab apabila layang-layang sudah terbang jauh kita
tidak punya patokan agama, nanti lepas talinya. Terbang kemana-mana. Jatuhlah
ke negeri majusii, ke negeri kufar, dan seterusnya. Akhirnya kita ikut mereka.
Maka sehebat-hebatnya manusia berpikir, walaupun manusia setengah dewa, tidak
mungkin dia mmenuntaskan perasaannya. Banyak sekali kasus ketika anda merasakan
sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya. Perasaan gelisah, empati, sedih
negatif sampe gembira positif, rasa sayang dst. Maka pikiran itu hanya bisa
mensupport spiritualisme. Maka silakan filsafat yang anda miliki dipakai untuk
memperkuat dan memperkokoh spiritual,
sesuai dengan agamanya masing-masing. Maka di ayat dalam kitab suci disebutkan
juga, betapa pentingnya orang cerdas, orang yang berpikir, dibandingkan dengan
orang yang tidak cerdas. Karena orang yang tidak cerdas itupun menjadi sumber
godaan setan. Godaan setan macam-macam, jadi fitnah, mengatakan yang tidak
baik, dst.
Irfa Maalina: “Bagaimana filsafat menjelaskan
ketetapan Tuhan?”
Pada akhirnya spiritual itu kembali pada
dirimu masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan,
Habluminallah. Dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain,
Habluminannas. Kalau saya daripada artinya diluar kemampuan saya ya secara
alami mengalir. Diriku, diri orang tuaku, diri keluargaku, diri pikiranku, diri
pengalamanku. Tengoklah hal tersebut, seperti apa spiritualmu selama ini. Maka
yang baik adalah masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang. Itulah tugas
kita sebagai manusia untuk berikhtiar, mengetahui mana yang sokheh, mana yang
kurang sokheh. Manusia itu terbatas, karena itu bertindaklah sesuai dengan
ruang dan waktunya. Contohnya teknologi untuk menentukan satu syawal. Saya pun
tidak bisa melakukan itu. Maka dari itu saya mengikuti saja. Yang paling mudah
ya mengikuti aturan pemerintah. Kalau tidak ada, ya ikuti di kampung itu apa.
Jadi segala macam spiritualitas itu bersifat postulat. Postulat itu adalah yang
kemudian menjadi model diterapkan di dunia ini. Ditetapkan
postulat-postulatnya. Dan kemudian manusia juga membuat postulat-postulat. Maka
subyek menentukan postulat bagi obyeknya. Engkau juga membuat peraturan bagi
adekmu. Seperti itu kira-kira, struktur berstruktur. Dirimu yang memahami
struktur juga berstruktur. Struktur dirimu itu ternyata dinamis yang sedang
menembus ruang dan waktu.
Bayuk Nusantara: “Pandangan Bapak tentang
dalam filsafat tidak ada benar dan salah?”
Semuanya sesuai dengan pikiran manusia. Yang
benar itu sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak.
Tyas Kartiko Sutawi: “Jadi sebenarnya filsafat
itu kompleks atau sederhana”
Ya kompleks ya sederhana. Tapi bukan jawaban
seperti ini yang merupakan filsafat. Bagaimana penjelasanku menjawab yang
komplek dan penjelasanku menjawab yang sederhana. Engkau pun bisa menerangkan.
Itulah filsafatmu. Filsafat itu
sederhana sekali, cuma olah pikir, berpikir reflektif. Kamu mengerti, kamu
sedang berpikir. Mau ditambahkan lagi boleh, pilarnya ada tiga, epistemologi,
ontologi, aksiologi. Kompleks, karena intensif, sedalam-dalamnya bersifat
radic, maka ada istilah radikalisme, ekstensif, karena luas seluas-luasnya,
meliputi dunia dan akhirat, yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu.
Setelah engkau tidak mampu memikirkannya, yasudah, gunakan alat yang lain,
spiritualitas. Nah, dalam rangka menggapai kebenaran itu, ini, Francis Bacon:
“knowledge is power”. Ada beberapa kendala orang itu mencapai kebenaran,
kendala pasar (apa yang dipikirkan hirukpikuk masyarakat), kendala mitos,
kendala panggung (apa yang orang katakan pada khalayak kemudian berlaku). Itu
harus engkau cerna, harus engkau telaah. Itulah herannya saya, kenapa tidak ada
yang bertanya tentang pertanyaan tadi. Berarti sudah ada kecenderungan engkau
sudah terhipnotis dengan pertanyaan saya, dan itu menjadi benar final bagi
dirimu. Padahal itu bukan kehendak dari berfilsafat ini. Kita harus membuat
antitesisnya. Namanya orang menguji suka-suka. Coba, anda bisa menguji saya
supaya saya nilainya nol, supaya mentalnya down, gitu. Saya membuat tes supaya
anda tidak sombong. Tapi bukan berarti dengan mendapat nol lebih baik, itu
namanya berhenti, mitos. Itulah maka harus berikhtiar dengan membaca
elegi-elegi. Jangan Cuma membaca dalam mimpi, karena mimpi itu tidak bisa
diukur konsistensinya, tidak koheren. Mimpi itu sebagian dari pengalamn tapi
tidak sepenuhnya, jadi tidak korespodensi. Mimpi itu bukan persepsi, bisa
diterangkan melalui teori berpikir. Tapi kalau yang menerangkan paranormal ya
lain lagi. Hati-hati datang ke paranormal. Datang ke paranormal, imannya harus
kokoh, harus kuat. Sama seperti datang ke Amerika, kalau imannya tidak kuat,
kebiasaannya habis, kata-katamu habis, kegemaranmu habis, imannya menguat.”
Akhir kata Bapak supaya bisa menjadi ide,
pemikiran, judul bebas supaya kami bisa kreatif. Bapak meminta maaf atas
kekurangannya, kemudian kami menutup perkuliahan hari itu dengan berdoa. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar