Episode Menembus Ruang dan Waktu
Filsafat Itu Diriku..
Pertemuan kuliah Filsafat Ilmu dilaksanakan pada
tanggal 22 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama
Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini
diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan
mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh Pak Marsigit.
Lia Agustina “Bagaimana secara filsafat
memandang sebuah pengalaman. Penting ga pengalaman buat ke depannya?”
“Semua
pertanyaannya sudah ada jawabannya di postingan saya. Tapi dalam semacam ini
pertemuan ini saya sengaja mendorong supaya anda punya kemandirian bertanya.
Karena itu adalah awala dari ilmu pengetahuan.
Jadi kalau kita kadang-kadang memandang itu
dari satu sisi karena memang sifat manusia yaitu tidak sempurna, tapi karena
itulah kita bisa hidup. Itulah hidupnya tuhan memberi kehidupan dengan
ketidaksempurnaan. Mengerikan apabila manusia mempunyai kesempurnaan barang
satu saja. Pengalaman itu separuh dunia. Membangun pengetahuan itu separuhnya
pengalaman separuh lagi di atas adalah logija. Maka berfilsafat itu praktikkan
pikiran anda dan pikirkan pengalaman anda. Jadi itu dinamika setiap hari. Maka
sebenarbenar hidup adalah interakdi olah pikir dan pengalaman . kita bisa
praktek di laboratpriom, di sini saja. Dokter yang melayani kesehatan lewat
radio melayani praktik via telpon dimana dia menngunakan metode analitik
apriori. Apriori bisa memikirkan walaupun tidak melihat pasirn. Hanya dari
pengetahuan kedokteran. Tapi sebaliknya dokter hewan. Meriksa sapi yang sakit.
Tidak bisa ditanya sang sakit, setelah dipegang dilihat, baru dapat dipikirkan
sakitnya sapi itu. Dokter menggunakan sintetetik aposteriori, kehidupan
pengalaman, yang di atas naik ke atas cenderung konsisiten, naik lagi
spiritual, naik terus nilai kebenaran adalah tunggal monoisme kuasa Tuhan.
Diturunkan
terus ke bawah sintetik apriori, dunia kontradiksi ada di hidup ini, jangankan
engkau, aku saja beda aku yang tadi dengan aku yang sekarang. Maka Imanuel Kant berusaha mendamaikan langit dan bumi. Langit itu konsisten,
dewa itu konsisten. Semakin tinggi, semakin kecil kontradiksi, sebenar-benar
tidak ada kontrasiksi absolut itu Tuhan. Semakin turun semakin besar
kontradiksi. Maka kontradiksi itu adalah predikatnya. Sehingga didamaikan yang
di atas diambil aproiri yang di bawah diambil sintetiknya. Ilmumu akan lengkap akan kokoh
kalau berdifat sintetik apriori. Jadi orang matematika murni tidak bahagia
karena tidak bisa dikatakan sebagai ilmu saja. Oleh karena itu ada metode
saintifik, dicoba itu sintetik, disimpulkan apriori. Sifatnya pengetahuan yang
di dalam pikiran itu analitik, ukuran kebenarannya konsistensi, sedangkan sifat
dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik dan tidak boleh bersifat
kontradiksi. Tapi dengan kontradiksi akan muncul produk baru. Jadi kalau
identitias itu hanya malaikat, imannya tetap menurut para kiayi. Tapi manusia
kontradiktif karena imannya naik-turun.
Filsafat itu dari awal sampai akhir begitu
saja, yang diatas kalau ditarik ke belakang selaras dengan hal-hal yang ada dalam pikiran, maka
matematika murni itu obyeknya benda pikir, karena terbebas ruang dan waktu.
Itulah duina pikiran bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan
tersapiu habi s semua tokoh filsafat
sampai ujung yunani sana yang berkemistri dengan ide –ide dalam pikiran,
mulai dari absolutisme, tetap dengan
tokoh Permenides, rasionalisme yaitu Rene Descartes, perfecsionisme
dst. Tapi itu kan dunia transenden, semakin ke atas semakin tarandsenden, dunia
para dewa. Rektor itu beyond, transenden buat kamu. Maka semua filsuf yang berchemistry dengan transenden itu
termasuk golongan langit. Ini adalah termasuk ilmu – ilmu filsafat juga,
spiritual, ilmunya para dewa. Tapi kita menjumpai uniknya pendidikan karena
kita berjumpa, mengelola anak kecil. Anak kecil itu dunia bawah. Dunia di luar
pikiran, konkrit, dunia pengalaman, ilmu bagi anak kecil bukan ilmu orang
dewasa. So art is for art itu orang dewasa. Seni hanya untuk dipandang ya medium, kalau
pameran untuk anak kecil yang harus boleh dipegang-pegang dan dinaiki karena
itu dunia anak. Hakikat ilmu untuk anak adalah activity. Seninya anak kecil itu
activity. Jangan diberi teori bahwa seni adalah apa...
Pendidikan kita itu relevan dengan UAN,
kontradiktif. Intuisi anak tercerabut, untuk berperilaku secara instan dan tidak sehat masuk
dunianya orang dewasa. Itulah pendidikan kita. Itulah perjuangan kita. Visi
yang mulia bagi pendidik adalah bagaimana bisa melindungi anak didik dari
kesemenamenaan metode mendidik yang tidak paham. Mendidik itu bukan amabisi supaya murid
bisa seperti saya. Jadilah dirimu sendiri. Fungsi guru adalah memfasilitasi.
Yang penting kita bekerja denga prinsipp ada, mengada dan pengada. Ada itu
potensi, mengada ikhtiar pengada produknya. Apabila tidak belajar berarti adamu
tidak sebenar-benar ada. Itu namanya penyakit palsu seperti plagiarisme, korupsi
dll. Dampaknya kalau ini berkembang, yang anehnya dunia mengalami dilema atau
anomali, karena kekuatan pikir itu hebat. Karena mereka memproduksi resep/rumus
untuk digunakan, dinaikkan postulat kehidupan. Maka semua postulah absolut itu
firamn Tuhan. Maka semua firman itu kalau diturunkan ke bumi jadi resep
kehidupan. Hasil the power mi nd itu menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban itu produk dari the
power of mind. Cuma sayang nya semua orang tanpa kecuali anak kecil harus
mengukuti langkah orang dewasa dalam mengikuti produk-produk demikian.”
Pertanyaan kedua dari Tyas Kartiko Sutawi
“Bagaimana filsafat untuk orang atheis?”
“Filsafat
itu adalah dirimu. Tidak usah jauh2 sampai yunanai. Apa yang aku
sebut absolute, ketika aku sedang berdoa, itu spiritualis. My behave is as
spiritualist. Tapi begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determined dan
otoritarian mengusir pencuri. Ketemu istri saya romantis. Demokratik,
pragmatis, romantis tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Itu mikrokosmisnya.
Makrokosmisnya, naik ke atas, pikiran para filsuf, ada sejarahnya, tanggal
lahirnya dan lain sebagaimnya. Karena filsafat itu dirimu sendiri, sah-sah
saja, silakan..Cuma.. kan begitu. Maka karena filsafat itu peduli terhadap ruang dan waktu, apalagi tujuannya memperoleh
kebahagiaan memalalui olah pikir maka bersifat kontekstual. Saya kontekstual
Indonesia, kontekstual jawa, kontekstual dunia timur, kontekstual
spiritualisme. Supaya berbahagia itu chemistry dengan konteksnya. Kalau anda
ingin terisolated dengan konteksnya, jelas potensi untuk tidak berbahagia. Anda
tidak suka ketemu orang, ya silahkan hidup di gurun. Oleh karena itu, struktur
spiritualisme, maka strukturnya jelas, struktur yang saya kembangkan di sini
itu yang paling bawah, material, atasnya formal, atasnya normatif, atasnya lagi
spiritual. Jadi kaya kerucut, menutupi sekaligus menjiwai dan sebagai pilar itu
spiritualnya. Maka dalam filsafat yang saya kembangkan itu menggunakan struktur
itu, artinya, tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau
mengembarakan pikiranmu. Sebab jika engkau mengembarakan pikiranmu dan tidak
dilandasi oleh hatimu, oleh spiritualmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan
kembali. Nah, di lain tempat jelas, jangankan kita, berbeda-beda, maka yang
muslim filsafatnya muslim, yang kafir filsafatnya kafir, yang materialis
semakin materialis, yahudi semakin yahudi, yang majusi semakin majusi, demikian
seterusnya. Maka di dunia yang berlevel seperti itu berinteraksi antara
berbagai suku bangsa dengan filsafatnya masing-masing. Manfaat dapada
berfilsafat adalah anda mampu menjelaskan posisi anda secara spiritualis. Kalau
di Amerika, karena negara yang absolutely liberal, maka bebas beragama dan
bebas tidak beragama, sama-sama punya hak. Sama-sama mengiklankan di televisi
cari pengikut, itu hak mereka. Tetapi di dalam koridor bernegara Republik
Indonesia, muali dari akar rumputnya sampai naik kepada bentuk formal tata
negara ada landasan UUD 45 dan Pancasila. Landasan Pancasila itu monodualis.
Mono itu habluminalloh, dualis itu habluminalloh habluminannas. Itu filsafat
Pancasila. Oleh sebab itu, kalau terjadi rongrongan, tetap saja bertahan.
Karena itu konteksnya Indonesia, chemistrynya Indonesia. Ketuhanan yang maha
Esa, spiritualisme, ya siapa sih yang mau menolak spiritualisme di Indonesia?
Wong sejak zaman dahulu punya sejarahnya spiritualisme, apakah yang gereja,
apakan yang masjid, apakah yang kelenteng dan sebagainya silakan saja, kan
begitu. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, siapa yang tidak mau? Ya
mungkin rumusannya yang lima ga suka, tapi dalam kehidupannya dihayati terus.
Maka sebetulnya meletakkan foundation tidak mudah, tapi mengakar pada budayanya yaitu Indonesia.”
Pertanyaan terakhir dari Ian Harum Prasasti
“Bagaimana cara filsafat untuk menjawab satu pertanyaan?”
“ Jadi begini, dunia itu berstruktur. Anda jangan terlalu ribet mikir
struktur. Pagi dan sore itu struktur dunia. Siang dan malam itu struktur
duania. Laki-laki perempuan itu struktur dunia. Logika pengalaman itu struktur
dunia. Kita abstraksi , mana struktur yang dipakai untuk membangun dalam kuliah
ini, oya,, strukturnya para filsuf. Itu strukturnya dunia. Jadi dunia ini dan
akhirat full of structure. Jadi secara filsafat apabila ingin menjawab suatu
pertanyaan, begitu anda bertanya di satu tempat,dengan kesadaran full of
structure tadi, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya. Dilihat
dari berbagai macam kedudukan struktur. Apapun. Misalnya, Pak, wadah itu ada
dimana? Tergantung strukturnya, bisa singa bisa malam, bisa laki bisa
perempuan. Kelembutan itu wadahnya perempuan. Kesigapan dan keperkasaan itu laki-laki. Dia perkasa tapi penakut,
berarti wadahnya, isinya penakut, kontradiksi. Pikiran, pengalaman. Wadah itu
ada dimana pengalaman atau pikiran? Ternyata wadah itu ada di mana-mana. Yang
kau pikirkan, yang kau katakan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi?
Karena setiap kali engkau sebutkan itu mempunyai sifat. Apakah bisa engkau
menyebutkan sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat? Merah saja bermilyah
sifatnya. Apakah bisa mencari sifat yang tidak punya sifat? Maka dunia itu
adalah full of sifat. Maka sebenar-benar hidup adalah sifat itu sendiri. Jadi
aku bisa selalu bisa bergaanti tiap hari mendefinisikan aopa itu hidup dari
yang ada dan yang mungkin ada. Makanya saya selalu membuka pertanyaan apapun.
Maka berfilsafat itu tujuannya menyadari adanya struktur. Jika kau ku beri
pertanyaan, maka setiap pertanyaanku adalah struktur. Setiap sifat adalah wakil
dari strukturnya. Setiap kata adalah gunung esnya daripada strukturnya itu.
Jadi setiap pertanyaanku itu adalah struktur. Kalau aku ada 50 pertanyaan,
berarti ada 50 struktur. Bila kamu tidak bisa menjawab semua berarti antara
diriku dan dirimu masih terjadi celah. Engkau belum paham struktur-struktur
yang ada dalam pikiranku. Maka baca, baca dan baca.”
Bapak mengucapkan selamaat berjuang baca, baca
dan baca untuk mengimbangi nilai yang jelek. Bapak juga meminta maaf apabila
membuat pagi hari yang cerah sedikit terganggu. Dan kami pun menutup pertemuan
ini dalam doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar